Mungkin gue emang anak aneh dari beberapa anak aneh yang berada di sekolah gue, kelas gue khususnya. tapi keanehan gue tersebut ngga lantas membuat gue ngga punya banyak temen kaya yang digambarin dalam beberapa sinetron atau film-film remaja yang kerap kali ditayangkan di TV. kalo di media berkata anak aneh itu kuper, norak, ngga punya temen, ngga menarik, atau sebagainya lah, mungkin menurut cara pandang mereka itu bener. tapi dari kacamata gue, ngga sama sekali. yah namanya juga sinetron gitu yaa. sebuah fiksi, rekaan yang dibuat atas pemikiran seorang manusia yang sama kaya kita, sama-sama makan nasi, sama-sama punya mata, hidung, telinga, dll. kalo mereka cacat ngga mungkin yaa bisa jadi sutradara atau penulis naskah atau yang biasa bekerja di bagian itulah. Agaknya rada lebay ya kalo gue mengusut soal- ini. tapi gini deh, banyak anak Indonesia, eh bukan anak-anak aja, tapi juga kalangan orang tua dan lain-lainnya kadang suka terbawa oleh fenomena kehidupan sinetron atau film. baik dari kalangan berpendidikan maupun ngga, kayanya dunia "sesat" itu udah bikin mata kita buta serta pikiran kita "nyumbat". termasuk gue lah pastinya.
ini dari cara pandang gue loh yaa, subjektif, bukan objektif. you know what? kalo pola pikir kita bagus dan orientasinya kaya pengusaha yang berpikir jauh kedepan untuk selalu menciptakan hal-hal positif dalam hidupnya, kita pasti tau apa yang harus kita lakuin ketika kita mendapat asupan semacam itu. media sosialisasi terbaik menurut gue adalah media elektronik, televisi khususnya (disini gue cuman ngebahas soal film-film serta FTV atapun sinetron2 basi yang merusak moral anak bangsa). karena modern banget ya alasannya. zaman sekarang masih asik ngga sih kalo kita baca koran atau dengerin radio? kan mending nonton TV gitu. ada gambarnya, ada rentetan kejadiannya dan sebagainya. tapi, seperti yang gue bilang tadi, mata kita agaknya udah rada buta buat menangkal hal-hal yang gue sebutin diatas tadi. kebanyakan anak Indonesia yang masih berstatus pelajar terkadang lebih suka bermain "kasarnya" daripada belajar. oke, emang rada kurang baik juga kalo kita terus-terusan belajar. bisa meledak deh tuh kepala lama-lama. tapi coba deh manage waktu sebaik-baiknya. misalnya, belajar 3 jam, sisihin waktu buat main 1 jam.
tapi zaman sekarang malah kebalikannya meen. belajar 1 jam, main 3 jam. bahkan bisa lebih dari itu. nah ini dia yang bikin Indonesia ngga maju-maju boy ! kemunduran pola pikir diakibatkan asupan sosialisasi yang kurang mendukung. banyak banget faktor yang bikin kita kaya gitu. dan biasanya "penyakit" ini menyerang para anak-anak bangsa yang masih berstatus sebagai pelajar yang notabenenya adalah generasi-enerasi penerus yang diharapkan bakalan nerusin perjuangan para pahlawan yang dengan susah payah bisa ngerebut kemerdekaan. udah pernah belajar sejarah kan? pastinya tau dong gimana para pemuda nyekap soekarno-hatta ke Rengasdengklok dan sempat berselisih paham dengan para petinggi negara saat itu buat bikin Indonesia merdeka. nah, pada saat itu aja udah ketauan. sebagai generasi yang lebih muda, seharusnya kita belajar dari pengalaman generasi sebelum kita supaya kita bisa melakukan hal yang lebih baik lagi dari generasi-generasi sebelum kita. mereka, Sukarni dan kawan-kawannya ngambil keputusan buat merdekain Indonesia tanpa campur tangan PPKI, dan see? bisa kan? itu pola pikir pemuda zaman dulu lho. nah gimana dengan pola pikir pemuda zaman sekarang ya? mungkin ada yang berpikir kaya gitu, tapi 1 dari 10.000 orang yang ada di kelurahan Pondok gede.
nah, kalo menurut gue, itu semua gara-gara sosialisasi ngga sempurna yang dipengaruhi oleh faktor media sosialisasi yang udah gue sebutin berkali-kali diatas. kayanya bener deh pernyataan "Television Should Be Banned". orangtua juga harus berperan banget deh dengan perkembangan anak-anak mereka. jangan sampe lah anak-anak mereka jadi korbannya. karena keluarga itu kan media sosialisasi primer sebagai pembentukan jati diri seorang anak.
contohnya udah banyak banget kali kita temuin dalam kehidupan sehari-hari kita. hem... pernah ngga lo lo semua liat cewe yang keluar rumah dengan pakaian terbuka? dengan PDnya mereka mengumbar belahan tubuh mereka yang(kalo dalam agama) ngga diperbolehkan bahkan haram. gue rasa semua agama punya aturan kaya gitu ko. ngga Islam, Kristen, hindu, Budha, konghucu, dll. Kecuali ada aliran sesat yang menganjurkan penganutnya mempertontonkan aurat. tapi dari sekian banyak agama yang ada di dunia ini, masa iya sih mereka semua menganut aliran sesat? konteks kita sekarang di Indonesia ya. taulah Indonesia itu mayoritasnya apa? masa iya sih diantara mereka ngga ada yang paham sama beginian. disini gue bukannya mau menggurui atau apa. tapi cuma buat mengingatkan kembali dan memberikan penjelasan buat argumen gue.
trus selanjutnya. pernah ngga kalian ngeliat anak sekolahan yang pake seragam junkis, rok super mini, perhiasan mentok dimana-mana? itu buat siswi. nah yang siswa, pernah kan pastinya ngeliat siswa-siswa yang main skate misalnya, atau nongkrong-nongkrong ngga jelas pada saat mereka harusnya belajar?
masih banyak lahi fakta-fakta yang bisa kita liat dari dampak tontonan yang harusnya berguna itu tapi jadi kacau gitu aja karena salah pengertian dari mereka yang menontonnya.
sinetron itu kan bagian dari pelajaran bahasa Indonesia. kalian tau yang namanya unsur Intrinsik pembangun sebuah karya sastra? yang punya 7 poin sebagai unsur pembangun sebuah karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. kalo ngga tau okedeh gue sebutin.
1. Tema, Inti Cerita, ide Pokok Cerita
2. Alur, rangkaian cerita dari awal sampe akhir
3. penokohan/perwatakan, pengambaran tokoh dan wataknya (ngga mungkin kalo dalam sebuah karangan bebas ngga ada tokoh-tokohnya?)
4. setting/latar, tempat terjadinya tuh cerita. ada latar tempat ama waktu
5. sudut pandang, pengarang tuh jadi siapa disitu
6. gaya bahasa, bahasa yang digunakan pengarang waktu nulis tuh cerita
7. amanat, peasan yang disampaikan pengarang dalam cerita tsb. nah ini nih bagian PALING PENTING DALAM SEBUAH KARYA SASTRA.
nah kalo ada yang tau tentang drama, inilah yang dimaksud dengan sinetron sebagai bagian dalam pelajaran bahasa Indonesia. drama itu sebuah karya sastra yang dipentaskan. sama aja kaya sinetron. cuma bedanya, kalo sinetron itu ngga secara langsung, persiapannya lebih matang karena segala kesalahan-kesalahan dalam adegan bisa langsung di cut.
sekarang yang harus kita lakuin ketika menonton sebuah pertunjukan drama atau sebuah sinetron adalah memperhatikan alurnya lalu menangkap sebuah pesan yang tesirat dibalik drama atau sinetron tsb. maka dari itu kita butuh seorang pendamping ketika kita sedang menonon televisi agar kita tidak berkutat dengan kesimpulan-kesimpulan kita sendiri supaya kita ngga terjerumus kedalam bahaya-bahaya yang ngga kita harapkan yang muncul dari tontonan kita tersebut.
masih banyak juga diantara kita yang berpikir kalo kita ngga bergaya seperti tokoh (famous) dalam sebuah sinetron yang kebetulan tokoh tsb adalah pemeran utama dan mendapatkan watak yang kurang baik tapi gayanya keren dan menarik perhatian dianggapnya keren dan gaul. tapi kalo dengan bergaya tsb menjadikan diri kita bukan seperti diri kita, itu sih namanya bukan gaul atau keren men.
terkadang anak aneh yang suka menyendiri di kelasnya bukan berarti ia tidak gaul atau bahkan kuper. sepertinya kita harus gali lagi apa itu gaul dan ruang lingkupnya. singkatnya aja ya, gaul itu berarti kan berwawasan atau Bahasa Indonesia yang baiknya adalah supel. Gaul bukan berarti kita bergaya sesuai mode atau bolos sekolah atau melawan guru atau membantah orang tua. gaul itu kritis ketika menghadapi masalah. gaul itu banyak pengetahuan. orang gaul berarti orang itu berwawasan.
kalo seorang anak itu aneh dan pendiam bukan berarti ia tidak gaul. bisa jadi dibalik diamnya anak tersebut ia berpikir tentang segala yang terjadi di sekitarnya dan menganalisisnya sebagai sebuah masalah untuk dipecahkan. nah kalo gitu siapa sebenernya yang nerd, norak, aneh dan ngga gaul?
jangan nyalahin diri sendiri kalo udah kaya gini. semua kudu introspeksi diri masing-masing. si anak harus tau batasan-batasan apa aja ketika ia menonton sebuah tanyangan nonpendidikan. orangtua juga harus tau kewajiban dan kapasitas mereka masing-masing. dan disni kayanya yang paling banyak berperan adalah media dan program-program yang ditayangkannya. tapi bukan berarti mereka itu salah. mereka hanya mengeksplor bakat yang mereka punya buat direalisasikan agar menjadi penghargaan setidaknya buat diri mereka sendiri. jadi semuanya berperan banget !!
kalo gitu, jangan terus-terusan mengintimidasi orang aneh dong. buktinya, gue yang rada kuper di kelas bisa berpikir kaya gini (walau mungkin pemikiran gue belum bagus seperti pengamat-pengamat kondang yang suka wara-wiri di media ataupun psikolog yang suka ngurusin beginian). tapi seengganya gue udah bisa bersikap kritis terhadap masalah yang ada yang ngga atau lebih tepatnya belum bisa dibenahi.
gue emang aneh, norak, kuper, ngga menarik diantara temen-temen gue. tapi gue lebih gaul daripada mereka. setidaknya itu menurut gue. HIDUP !!! hahah apadeh? Zzz.
kalo udah gitu, siapa yang bakaln punya banyak temen? EMANGNYA ENAK APA JADI TRENDSETTRE TAPI STATUSNYA FOLLOWER? MENDINGAN LOW OVER TAPI BISA MEMBANGUN DIRINYA SENDIRI BUAT JADI TRENDSETTER. Mau yang mana?
Selasa, 23 Februari 2010
Anak Nerd itu Gue. Tapi Gue Masih bisa bergaul dengan baik ko.
Diposting oleh Ms.Latifa di 5:33:00 AM
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar